Sabtu, 25 September 2021

Cerita di Balik SD Negeri Legokulon 1 di Ngawi Masih Dibuka, Walaupun Jumlah Siswa Sedikit

NGAWI- SDN Legokulon 1 ini menjadi salah satu dari banyaknya sekolah di Ngawi yang mempunyai jumlah siswa sedikit, walaupun lokasi sekolahnya cukup strategis dan tidak jauh dari pusat kota dimana jumlah siswanya hanya 30 dari 6 kelas yaitu kelas 1-6.

Memiliki jumlah siswa yang tidak sedikit, pastinya menjadi suatu kebanggaan dan memiliki dampak yang baik bagi sekolah di setiap jenjangnya. Tetapi berbeda halnya dengan SDN Legokulon 1 di Ngawi yang hanya berjumlah 30 siswa dari enam kelas yaitu kelas 1-6.



Dikatakan oleh Kepala Sekolah bahwa “SDN Legokulon 1 ini memang semakin lama siswanya semakin sedikit. Dinas Pendidikan Kabupaten Ngawi juga sudah menyarankan untuk ditutup dan digabung dengan SDN Legokulon  2”. Adanya arahan dari Dinas Pendidikan Ngawi ini, lantas didiskusikan bersama wali murid tetapi mereka mengatakan dengan tegas bahwa tidak setuju.

Berkaitan dengan saran dari Dinas Pendidikan Kabupaten Ngawi, alasan terbesar mengapa sekolah tersebut masih dibuka walaupun memiliki jumlah sedikit karena beberapa siswa yang rumahnya cukup jauh dan menanjak apabila akan pergi ke sekolah perlu diantar. Nah, wali murid yang mengantar siswa ini pastinya memiliki banyak pekerjaan. Beberapa wali murid ada yang bekerja di sawah, tukang kayu, pembantu rumah tangga, dan wiraswasta.

Wali murid menolak karena jika harus digabung dengan SDN Legokulon 2, mereka harus menjemput pulang pergi siswa dari sekolah ke rumah yang jaraknya tidak dekat dan pastinya cukup membuang waktu karena mereka harus bekerja.

Selain itu, siswa juga menjelaskan bahwa mereka lebih nyaman berangkat sekolah berjalan karena apabila diantar oleh orang tua terasa lebih membebani dan juga kasihan karena orang tua harus bekerja. Jumlah siswa yang sedikit ini juga tidak mengurangi semangat guru dalam mengajar, walaupun gurunya hanya berjumlah 5 orang.

Apabila dilihat dari lokasi SDN Legokulon 1 ini sangat strategis sekali dari kota. Selain itu, bangunan dari sekolah ini memang cukup memprihatinkan karena ruangannya sangat terbatas. Pada setiap kelas selalu digabung, contohnya pada kelas 1 dan 2 di setiap kegiatan belajar selalu dijadikan satu di dalam satu ruangan. Tidak hanya kelas 1 dan 2 tetapi kelas 3 dan 4 serta 5 dan 6. Keterbatasan ruangan inilah yang menjadikan alasan mengapa setiap kelas selalu dijadikan satu. Pada ruang kepala sekolah bangunan juga sudah rusak dan tidak layak untuk dipakai. Beberapa fasilitas sekolah juga sudah rusak, bahkan dimakan rayap. Keadaan seperti ini pastinya sangat memperihatinkan dan membutuhkan bantuan dari pemerintah terkait.

 


Pengesahan Peraturan Menteri Pencegahan dan Perlindungan Kekerasan Seksual di Perguruan Tinggi

  Kasus pelecehan seksual baru-baru ini dialami oleh salah satu mahasiswa Universitas Riau (Unri) yang dilakukan dosennya sendiri ketika mel...