NGAWI- SDN Legokulon 1 ini menjadi salah satu dari banyaknya sekolah di Ngawi yang mempunyai jumlah siswa sedikit, walaupun lokasi sekolahnya cukup strategis dan tidak jauh dari pusat kota dimana jumlah siswanya hanya 30 dari 6 kelas yaitu kelas 1-6.
Memiliki jumlah siswa yang tidak sedikit, pastinya menjadi suatu kebanggaan
dan memiliki dampak yang baik bagi sekolah di setiap jenjangnya. Tetapi berbeda
halnya dengan SDN Legokulon 1 di Ngawi yang hanya berjumlah 30 siswa dari enam
kelas yaitu kelas 1-6.
Dikatakan oleh Kepala Sekolah bahwa “SDN Legokulon 1 ini memang semakin
lama siswanya semakin sedikit. Dinas Pendidikan Kabupaten Ngawi juga sudah
menyarankan untuk ditutup dan digabung dengan SDN Legokulon 2”. Adanya arahan dari Dinas Pendidikan Ngawi
ini, lantas didiskusikan bersama wali murid tetapi mereka mengatakan dengan
tegas bahwa tidak setuju.
Berkaitan dengan saran dari Dinas Pendidikan Kabupaten Ngawi, alasan
terbesar mengapa sekolah tersebut masih dibuka walaupun memiliki jumlah sedikit
karena beberapa siswa yang rumahnya cukup jauh dan menanjak apabila akan pergi
ke sekolah perlu diantar. Nah, wali murid yang mengantar siswa ini pastinya
memiliki banyak pekerjaan. Beberapa wali murid ada yang bekerja di sawah,
tukang kayu, pembantu rumah tangga, dan wiraswasta.
Wali murid menolak karena jika harus digabung dengan SDN Legokulon 2,
mereka harus menjemput pulang pergi siswa dari sekolah ke rumah yang jaraknya
tidak dekat dan pastinya cukup membuang waktu karena mereka harus bekerja.
Selain itu, siswa juga menjelaskan bahwa mereka lebih nyaman berangkat
sekolah berjalan karena apabila diantar oleh orang tua terasa lebih membebani
dan juga kasihan karena orang tua harus bekerja. Jumlah siswa yang sedikit ini
juga tidak mengurangi semangat guru dalam mengajar, walaupun gurunya hanya
berjumlah 5 orang.
Apabila dilihat dari lokasi SDN Legokulon 1 ini sangat strategis sekali
dari kota. Selain itu, bangunan dari sekolah ini memang cukup memprihatinkan
karena ruangannya sangat terbatas. Pada setiap kelas selalu digabung, contohnya
pada kelas 1 dan 2 di setiap kegiatan belajar selalu dijadikan satu di dalam
satu ruangan. Tidak hanya kelas 1 dan 2 tetapi kelas 3 dan 4 serta 5 dan 6.
Keterbatasan ruangan inilah yang menjadikan alasan mengapa setiap kelas selalu
dijadikan satu. Pada ruang kepala sekolah bangunan juga sudah rusak dan tidak
layak untuk dipakai. Beberapa fasilitas sekolah juga sudah rusak, bahkan
dimakan rayap. Keadaan seperti ini pastinya sangat memperihatinkan dan
membutuhkan bantuan dari pemerintah terkait.

