Andy Flores Noya atau lebih akrab dipanggil dengan Andy F. Noya merupakan seorang jurnalis yang cukup dikenal di Indonesia, lahir di Surabaya, 6 November 1960 sebagai anak terakhir dari lima bersaudara. Ia dilahirkan dari keluarga yang sederhana, ayahnya Ade Wilhelmus Flores Noya bekerja sebagai tukang servis mesin ketik yang memiliki darah Belanda dan Ambon. Sementara sang ibu, Nelly Mady Ivonne Klaarwater bekerja sebagai penjahit untuk membantu sang suami dalam menghidupi kelima anaknya. Ibunya juga memiliki darah Belanda, hanya saja perbedaannya terdapat campuran Jawa.
Sewaktu kecil Andy cukup dikenal oleh keluarganya sebagai anak yang cukup nakal, ia kerap ketahuan sedang mencuri mangga dan burung dara untuk dijual. Tidak hanya itu saja, ia akan marah dengan cara memecahkan jendela rumah apabila tidak diberi uang oleh orang tuanya. Hal ini membuat kedua orang tuanya selalu khawatir mengenai masa depan sang anak, bahkan kakak-kakaknya mengatakan jika kelak Andy sudah dewasa akan menjadi seorang penjahat karena kenakalannya yang sudah tidak wajar. Andy juga mengatakan ketika di acaranya sendiri yaitu Kick Andy dan pada saat itu dipandu oleh Sarah Sechan, bahwa ketika waktu kecil ia pernah terkena santet yang mengakibatkan ia susah makan dan menjadi kurus kering. Ternyata santet ini sebenarnya tidak ditujukan untuknya tetapi sang ayah, karena adanya persaingan di kantor membuat temannya tidak terima akan kesuksesan sang ayah. Tetapi karena adanya bantuan dari seorang dukun, ia berhasil keluar dari serangan santet tersebut. Video dibawah ini merupakan perjalanan kisah hidup Andy yang ia sampaikan di salah satu acara di Metro TV:
Hubungan orang tua
Andy juga cukup dikenal tidak terlalu harmonis, yang membuat keduanya
memutuskan untuk bercerai ketika Andy masih kecil. Setelah orang tuanya
bercerai, sang ayah dan kedua kakaknya pindah ke Jakarta, sedangkan ia dan
kedua kakaknya yang lain pindah ke Surabaya bersama sang ibu. Ketika di
Surabaya ia hidup bersusah payah karena ibunya harus bekerja sendirian
menghidupi ketiga anaknya tanpa adanya suami. Hal ini membuat Andy merasa marah
dan sedih, karena ia merasa tidak mempunyai banyak kasing sayang dari kedua
orang tuanya, ibunya walaupun bersamanya tetapi selalu sibuk bekerja. Semasa
kecilnya, ketika di Surabaya ia banyak dimusuhi oleh teman-teman sekitarnya
karena dianggap paling berbeda dari anak-anak yang lain. Hal ini berkaitan
dengan darah Andy yang memiliki campuran Belanda, Ambon, dan juga Jawa. Teman-temannya
biasanya memanggilnya sebagai “Andy Londo”, ia banyak dimusuhi karena fisiknya
paling bagus, terlihat keren, tinggi, berkulit putih, dan juga cekatan. Hal
inilah membuat teman-temannya merasa cemburu dan memusuhinya.
Dikutip dari suatu blog mengenai biografi Andy F. Noya
bahwa dalam riwayat pendidikannya, ketika masa SD ia sempat berpindah-pindah
sekolah tetapi akhirnya ia lulus dari SD Sang Timur Malang. Setelah lulus SD,
ia melanjutkan sekolah menengah pertama atau SMP di Sekolah Teknik Negeri
Jayapura. Semasa SMP, ia cukup dikenal sebagai siswa yang berprestasi khusunya
pada mata pelajaran Bahasa Indonesia selalu mendapatkan nilai bagus dan ia pun
juga menyukai mata pelajaran tersebut. Namun, karena ia bersekolah di Sekolah
Teknik maka ia tidak cukup dukungan dan fasilitas dalam mewadahi siswa yang
tertarik dengan bahasa. Pada saat Porseni berlangsung, pihak sekolahnya hanya
mendaftarkan siswa yang berprestasi dalam bidang olahraga tetapi dengan penuh
semangat dan rasa percaya diri karena keahliannya Andy memutuskan untuk
mendaftarkan diri dan berhasil mendapatkan juara ketiga. Tetapi hal ini tidak
memuat banyak pihak bangga dengannya, teman-temannya yang mengetahui hal tersebut
sempat mengolok-olok Andy. Setelah lulus dari SMP, ia melanjutkan ke Sekolah
Teknik Mesin 6 Jakarta. Semasa SMA, ia menjadi siswa teladan dan dikenal cukup
pintar bahkan ketika lulus mendapatkan predikat lulusan terbaik. Tidak hanya
itu saja, ia mendapatkan beasiswa untuk berkuliah di IKIP Padang tetapi tawaran
tersebut ia tolak karena ia sangat ingin menjadi seorang wartawan.
Dalam menggapai cita-citanya sebagai seorang wartawan, ia
melanjutkan pendidikannya dengan mendaftar di Sekolah Tinggi Publisistik yang
sekarang telah berganti nama menjadi Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
(IISIIP), tetapi karena ia berlatar belakang sebagai siswa teknik mesin ia
sempat ditolak. Hal tersebut tidak menyulutkan semangat Andy dalam mendaftar,
ia meminta bantuan kepada sang ibu untuk membujuk rektor agar mau menerima
Andy. Setelah dibujuk oleh sang ibu, rektor pun memberikan kesempatan dengan
mengikuti tes masuk dan memberikan surat rekomendasi dari Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi sebagai syarat dalam mengikuti tes masuk. Ketika berkuliah,
ia tinggal bersama sang kakak yang ada di Jakarta dan sudah berkeluarga. Hal ini
tidak membuat Andy lupa berterima kasih dengan kakaknya, untuk menebusnya ia
membantu sang kakak dalam pekerjaan rumah dan mengasuh keponakan-keponakannya
yang merupakan anak dari sang kakak. Andy juga hidup dengan sangat sederhana,
karena jauh dari orang tua dan mengharuskan ia hidup hemat. Dalam berpenampilan
ia terkesan apa adanya, tidak pernah mengikuti trend karena ia sadar akan kemampuan
kantongnya dan hal tersebut tidak cukup penting baginya. Ia merasa yang
terpenting adalah ia memiliki wawasan luas dan mendapatkan nilai yang bagus
untuk menggapai cita-citanya.
Pada saat memasuki semester tiga perkuliahan, terdapat lowongan kerja reporter buku Apa dan Siapa yang diterbitkan Grafiti Press dan merupakan anak perusahaan dari majalah Tempo. Hal ini menarik perhatian Andy dan temannya, ia pun mengirimkan lamaran pekerjaaan kesana. Setelah melewati beberapa tahap pendaftaran dan juga seleksi, akhirnya ia pun diterima dan memutuskan untuk berhenti kuliah dan fokus bekerja. Dua tahun bekerja, ia diajak oleh bosnya bernama Lukman Setiawan untuk bergabung dalam harian Bisnis Indonesia yang masih mulai dirintis. Hal ini membuat Andy cukup ragu karena gelar akademisnya, tetapi sang bos memberikan keyakinan bahwa gelar tersebut tidak cukup penting karena ia memiliki keahlian dalam menjadi seorang wartawan. Andy pun tercatat sebagai 19 reporter pertama di Bisnis Indonesia, ia pun bertemu dengan Amir Daud yang menjadi pemimpin redaksi. Amir Daud lah yang memberikan banyak dukungan dan ilmu kepada Andy sehingga mampu menjadi seorang wartawan yang profesional.
Semasa di Bisnis Indonesia, ia menjabat sebagai
koordinator reportase dan redatur, tetapi setelah itu ia mendapatkan sebuah
tawaran untuk berpindah kerja di majalah khusus milik Tempo. Hal ini membuat
Andy tertarik dan menerima tawaran tersebut, disaat bekerja di Tempo inilah ia
menjelma sebagai seseorang yang berani dan penuh percaya diri. Tidak sampai
disitu, lagi-lagi Andy pindah kerja di Surya Paloh pada tahun 1992 di koran
Media Indonesia (MI) menjadi wartawan, ia juga mencoba dunia broadcasting sebagai pembawa acara di
program Jakarta Round Up dan Jakarta First Channel di Radio Trijaya selama lima
tahun. Banyak pekerjaan yang ia lakukan pada saat itu, membuat Andy tidak cukup
mempunyai waktu luang untuk berlibur tetapi hal tersebut tidak membuat ia
merasa terterkan, karena menjadi seorang wartawan adalah cita-cita sudah ia
impikan semasa kecil.
Pada tahun 1999, stasiun televisi ternama yaitu RCTI
mengalami sebuah masalah. Andy dan juga Djafar Assegaf yang merupakan wartawan
senior diutus untuk membantu Seputar Indonesia. Tindakan Andy dalam memajukan
Seputar Indonesia juga cukup kontroversial untuk mengaalhkan Liputan 6 SCTV.
Setelah itu, tidak berselang lama pada tahun 2000 Metro TV Surya Paloh
memanggil Andy untuk menjadi seorang pemimpin redaksi dan juga pada saat itu
Metro TV sudah memiliki izin siaran. Pada tahun 2003, Andy kembali bekerja di
Media Indonesia menjadi pemimpi redaksi di surat kabar umum terbesar kedua,
setelah itu pada tahun 2006 pemimpin redaksi Metro TV bernama Don Bosco
mengundrukan diri dan membuat Andy ditawari agar merangkap bekerja menjadi
pemimpin redaksi di Metro TV. Sebelum hal tersebut terjadi, pada tahun 2005 ia
diminta oleh Surya Paloh untuk menjadi pembawa acara dalam programnya sendiri
yang dinamai dengan “Kick Andy”. Pada awalnya ia merasa malu dan tidak terlalu
percaya diri, tetapi dengan penuh semangat ia mencoba menerima tawaran
tersebut. Hasil dari program tersebut, cukup menarik perhatian masyarakat
karena mempunyai banyak edukasi dan wawasan bagi penontonnya sehingga cukup
menjadi sorotan publik. Berkat acara tersebut juga ia menjadi cukup dikenal
oleh masyarakat luas.
Prestasi Andy F. Noya sendiri juga cukup membanggakan, dimana pada tahun 2010-2011 ia memenangkan Panasonic Gobel Award kategori presenter berita/ current affairs dan juga pada tahun 2014-2015 ia menjadi nominasi di Panasonic Award kategori presenter berita dan talkshow berita. Andy juga pernah mendapatkan beasisa dari British Council Jakarta untuk belajar jurnalistik melalui Thomson Foundation di Cardiff University of Jounalism School, Wales, Inggris.
Andy juga memberikan beberapa penjelasan mengenai "Jurnalistik". Berikut videonya:






Tidak ada komentar:
Posting Komentar